UA-169280022-1 Aktivitas Warga Jepang Selama Pandemi Covid-19 - Lembar Arsita Rahadiyani, Personal Blog milik Arsita Rahadiyani Loekito berisi cerita dan pengalaman

Aktivitas Warga Jepang Selama Pandemi Covid-19

by - May 27, 2020

Corona Virus Disease-19 atau dikenal juga dengan COVID-19 telah menjadi topik utama di berbagai negara di dunia. Karena virus yang tak kasat mata inipun, para pemangku jabatan di setiap negara yang terdampak harus mengambil langkah cepat guna tindakan pencegahan. Begitu pula dengan Jepang. Penetapan Status Keadaan Darurat telah ditempuh oleh pemerintah, guna menurunkan angka dan luas area penyebaran virus Covid-19. Lalu bagaimana dengan rutinitas warganya? Berikut ini aktivitas warga Jepang selama Pandemi COVID-19.

Setelah diperluasnya jangkauan Status Keadaan Darurat Jepang Berskala Nasional menjadi berlaku di seluruh negeri, tentu banyak aktivitas sehari-hari para warga Jepang mengalami perubahan. Apalagi dengan adanya himbauan dari pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh instansi terkait yakni Ministry of Health Labour and Welfare atau Kementrian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang, seluruh perangkat serta aparator kota dan wilayah menerapkan himbauan yang sejalan dengan pemerintah pusat. Mereka meminta kerja sama semua pihak dan masyarakat guna mendukung upaya pencegahan terhadap meluasnya area penyebaran Corona Virus Disease-19 ini dengan mengurangi aktivitas kontak orang dengan orang, bahkan pihak tim ahli dari instansi tersebut dengan jelas menetapkan target prosentase yang harus dicapai jika ingin hal tersebut tercapai.  


Aktivitas Warga Jepang Selama Pandemi Covid-19

Berikut ini beberapa catatan aktivitas yang dilakukan warga Jepang guna mengikuti himbauan dari Pemerintahnya dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19. 
 

  • Melakukan Pulang Kampung secara Online

Himbauan pemerintah di poin pertama ini cukup membuat saya tergelitik. Pasalnya adalah disebutkan istilah pulang kampung, yang notabene bagi saya sebagai warga negara Indonesia adalah identik dengan liburan, liburan, bulan Ramadhan dan juga Idul Fitri. Meskipun untuk Lebaran / Idul Fitri istilah mudik adalah lebih tepat. Tenyata di Jepang pun, juga ada aktivitas pulang kampung. Hal ini umumnya dilakukan pada saat liburan akhir tahun, liburan obon di saat musim panas dan juga di masa liburan Golden Week yang jatuh di tanggal 4~6 Mei 2020 lalu. Karena himbauan ini ditetapkan pada dua pekan menjelang akhir bulan April, maka himbauan pemerintah Jepang kepada warganya tentu sangat sesuai. Karena saat itu menjelang momen Golden Week, momen dimana berkumpulnya keluarga besar, mirip dengan lebaran di Tanah Air. 
Sehingga dengan himbauan agar melakukan pulang kampung secara online diharapkan efektif, karena hal ini berarti mengurangi aktivitas perpindahan/perpindahan serta kontak antara orang dengan orang. 

  • Meminimalkan Jumlah Orang saat Berbelanja ke Supermarket, dan untukkeperluan yang tidak mendesak diharapkan agar melakukan belanja online (online shopping)

Selanjutnya adalah himbauan yang sebagian besar targetnya adalah kepada para ibu rumah tangga di Jepang, yakni agar saat pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan pokok sehari-hari agar meminimalkan jumlah orang serta memilih jam-jam yang sepi pengunjung. 
Aku sendiri beberapa kali merasakan hal ini. Dimasa normal, yang kerap pergi ke supermaket adalah aku, dan tak jarang membawa serta anak bayi karena masih menyusu ASI. Namun semenjak pandemi COVID-19 melanda sekitar bulan Februari 2020, suami lebih banyak banyak mengambil peran berbelanja ke supermarket supaya lebih efektif dan efisien dari segi waktu, tentu setelah membawa daftar barang-barang apa saja yang harus dibeli. Seandainya pun, harus aku yang membeli bahan-bahan kebutuhan rumah ke supermarket, maka anak bayi akan dititipkan kepada ayah atau kakaknya sambil menunggu dan bermain di dalam kendaraan. 
Untuk poin agar berbelanja di jam-jam sepi, aku pribadi memilih dan menyarankan kepada suami untuk berbelanja aneka kebutuhan di weekdays tinimbang weekend. Dengan asumsi bahwa di hari Senin~Jumat jumlah pengunjung supermarket menjadi lebih sedikit. Untuk Tsukuba, kota yang kutinggali bersama keluarga, hal ini cukup bisa diterapkan.   

Sumber: Google
Di atas ini adalah salah satu infografis perihal panduan berbelanja di supermarket saat pandemi Covid-19.

Aktivitas lain yang berkaitan dengan himbauan berbelanja adalah dengan melakukan sistem belanja online untuk bahan-bahan kebutuhan yang tidak mendesak. Hal ini tentu sangat efektif dalam mengurangi kontak antara orang dengan orang. Bahkan berbelanja online menjadi sangat memfasilitasi kaum perempuan yang gemar cuci mata saat pergi ke pusat perbelanjaan, dengan merubah menjadi cuci mata di etalasi toko online. 
Belanja online pernah kami lakukan saat keperluan membeli perangkat komputer milik suami (hardisk portable) dan juga headset. Kebutuhan headset menjadi meningkat di masa pandemi Covid-19 ini, karena segala aktivitas belajar dan bekerja dilakukan secara online. Bahkan saat kami memesannya pun harus menunggu sampai sekitar satu minggu, karena habisnya persediaan di toko online. Padahal biasanya jarak waktu antara mulai dipesan/dibayar sampai dengan diantar ke rumah hanya membutuhkan waktu maksimal lima hari, toko online untuk area Jepang.  

  • Beraktivitas olahraga/yoga di rumah. Bila hendak jogging agar dlakukan secara sendirian

Aktivitas olah raga menempati urutan teratas di piramida Japanese Food Guide Spinning Top. Gambar yang kerap aku lihat di salah satu selasar Rumah Sakit Tsukuba Daigaku Hospital saat periode pemeriksaan kehamilan tahun lalu. Dari piramida di bawah ini akan ditemukan suatu jawaban atas pertanyaan "Mengapa orang Jepang sangat rajin melakukan aktivitas fisik / berolah raga?"
Aktivitas Warga Di Jepang selama apndemi Covid-19, piramida seimbang
Sumber: https://www.maff.go.jp/j/balance_guide/
Karena physical activities merupakan suatu kebutuhan utama bagi warga Jepang, maka Pemerintah pun memasukkan aturan dalam berolah raga ke dalam salah satu himbauan untuk diterapkan bagi warganya. 
Pemerintah meminta kerjasamanya dari masyarakat agar melakukan jogging secara sendiri-sendiri tidak dalam kelompok. Kemudian, apabila hendak melakukan aktivitas jogging maupun berjalan-jalan/atau sekedar pergi ke taman, maka diharapkan untuk memilih lokasi dan jam-jam yang sepi. Yang paling disarankan adalah melakukan olah raga atau yoga dari kediaman warga masing-masing, meskipun tanpa coach, tapi bisa dengan panduan melalui video/youtube. 

  • Membeli Makanan & Minuman untuk Dibawa Pulang (take away, take-out) atau menggunakan  delivery service

Kedai yang menjual kudapan atau minuman menjadi salah satu jenis usaha yang harus ditutup sementara selama Pandemi Covid-19. Hal ini karena tempat itu terkadang kurang memiliki sirkulasi udara yang cukup, serta kerap menjadi tempat berkumpulnya beberapa orang. Dimana kedua poin ini masuk di dalam 3 area yang sebaiknya dihindari saat bepergian keluar rumah, yang telah digaungkan oleh pemerintah Jepang. 

Sumber: https://jyutokuji.net/blog_sanmitsu/
Sumber: http://www.city.kashiwa.lg.jp/
Artinya

3 Lokasi “Rawan Penularan” yang harus dihindari saat harus beraktivitas di luar rumah

Apabila Anda harus beraktivitas di luar rumah karena konsidi mendesak atau penting, hendaklah selalu melindungi mulut Anda dengan menggunakan masker, handuk bersih atau saputangan. Dan berhati-hatilah untuk tidak berkumpul di tempat yang rentan terhadap infeksi cluster, serta menghindari lokasi yang termasuk ke dalam kriteria berikut ini:
  1. Ruang tertutup (tanpa jendela, pintu tertutup) serta ruang dengan ventilasi / sirkulasi udara yang buruk
  2. Tempat yang padat (jumlah orang dalam lokasi tempat tersebut tidak disebutkan dengan jelas)
  3. Tempat yang sempit (masing-masing orang tidak bisa menjaga jarak sekitar 2 meter, sehingga saat berbicara anda menjadi bisa menjangkau satu sama lain)
Sehingga hampir seluruh kedai makanan atau restaurant yang masih beroperasi di Tsukuba, menerapkan sistem takeaway atau delivery service selama periode Pandemi Covid-19. Hal ini yang membuat aktivitas pergi dan makan di kedai makan favorit menjadi hal yang dinantikan oleh warga. 

  • Melakukan kegiatan 飲み会 (baca: nomikai), makan dan minum bir secara online 

Masa Pandemi Covid-19 ini berlangsung sudah sejak Januari, ini artinya saat akhir bulan Maret sampai awal April yang identik sebagai periode kelulusan dan awal masuk sekolah dan tingkat universitas, banyak kegiatan upacara kelulusan maupun entrace ceremony menjadi tidak bisa dilakukan. Hal lainnya yang sudah menjadi salah satu kegiatan rutin para anak muda (mahasiswa di Jepang) saat periode kelulusan adalah 飲み会, baca: nomikai, yaitu aktivitas pergi ke kedai minum untuk minum arak/sake Jepang atau bir sambil menikmati kudapan untuk merayakan kelulusan atau naik tingkat. Karena area atau kedai minum juga termasuk ke dalam salah satu dari tiga lokasi yang dihimbau untuk dihindari, maka aktivitas nomikai pun dianjurkan agar dilakukan secara online.  

  • Memeriksaan diri ke dokter melalui telepon atau online

Seperti yang telah disampaikan oleh Tim Ahli Ministry of Health Labour and Welfare Japan, untuk mencegah penularan semakin meluas terutama di dalam RS atau klinik, maka prosedur pemeriksaan pasien secara online telah diizinkan oleh pemerintah.

Berikut ini Kutipan Panduan yang telah diterjemahkan oleh Ibu Yati Anggarini, seorang ibu yang telah lama tinggal di Jepang dan aktif di Komunitas Wanita Indonesia Berkarya di Jepang.
1. Cek terlebih dahulu melalui website atau menelepon apakah RS atau klinik yang akan anda kunjungi, untuk menanyakan perihal tersedianya pelayanan periksa melalui telepon atau online.
2. Melakukan reservasi untuk melakukan pemeriksaan melalui telepon atau online. 
Jangan lupa untuk mengumpulkan data informasi yang diperlukan saat periksa, seperti data asuransi kesehatan saat ditanya oleh petugas RS atau klinik. Serta yang paling utama adalah jangan lupa untuk memastikan cara pembayaran.
3. Melakukan Pemeriksaan melalui telepon atau online. 
Sebelum mulai akan dilakukan pengecekan informasi pribadi apakah yang periksa itu adalah orang yang bersangkutan atau bukan, lalu bisa disampaikan keluhan dan gejala sakit. Perlu diperhatikan bahwa ada kalanya pemeriksaan melalui telepon atau online ini sulit dilakukan untuk kasus-kasus tertentu.
4. Apabila oleh RS atau klinik disarankan untuk periksa langsung, pastikan anda segera pergi untuk memeriksakan diri secara langsung ke RS atau klinik. Apabila ada resep obat, hubungi apotek terdekat untuk mengurus pengiriman obat.

Di atas hanyalah garis besar tata cara untuk periksa melalui telepon atau secara online, untuk prosedur lebih detilnya agar memriksa kembali di website instalasi kesehatan terkait atau menanyakan langsung melalui telepon masing-masing RS/klinik. 


Aktivitas warga Jepang selama Pandemi Covid-19, Prosedur Pemeriksaan Diri ke RS/Klinik secara Online
Sumber: https://www.mhlw.go.jp/stf/seisakunitsuite/bunya/kenkou_iryou/iryou/rinsyo/
Foto diatas adalah pamflet dari Ministry of Health Labour and Welfare Japan mengenai tata cara pemeriksaan melalui telepon atau secara online. Secara garis besar tidak jauh berbeda dengan proses periksa dokter secara langsung.

Hal ini tentu sudah diterapkan oleh seluruh warga tidak hanya di Jepang saja tentunya. Di seluruh negara, aktivitas belajar dan bekerja dari rumah merupakan hal terkini yang marak dilakukan selama Pandemi Covid-19 ini.
Untuk pekerjaan yang bisa dilakukan secara remote dari rumah tentu bisa dilakukan,namun berbeda dengan jenis-jenis pekerjaan yang tetap harus dilakukan oleh sebagian warga guna mendukung keberlangsungan aktivitas harian, seperti petugas pengangkut sampah, petugas pengantar atau jasa kurir, petugas RS dan klinik, petugas di Kantor balai Kota, sopir kendaaraan umum atau petugas penjaga toko kebutuhan pokok. 
Yang hendak aku garis bawahi disini adalah etos kerja yang kulihat dari orang Jepang. Mereka apabila bekerja seakan-akan ada orang yang mengawasi dan melihat kinerjanya. Menyelesaikan pekerjaannya dengan fokus dan teliti, bagian yang bekerja di bidang pelayanan masyarakat akan melayani dengan santun dan ramah, berusaha menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan yang utama adalah berusaha keras menghindari timbulnya complaint serta membuat pelanggan puas. Jadi selama hampir lima tahun saya tinggal di Tsukuba, saya jarang bahkan tidak pernah melihat orang Jepang yang sedang bekerja kerap menengok telepon genggam untuk melihat pesan atau menelepon. Mereka akan melakukan itu di saat periode istirahat siangnya. Bahkan untuk sopir bus, petugas perpustakaan, petugas loket informasi di stasiun, atau penjaga toko maupun kasir. Sehingga saat beberapa waktu lalu kami harus mengurus administrasi di Kantor Balai Kota Tsukuba, aku berharap etos kerja dan rasa bertanggung jawab seperti ini bisa dicontoh oleh kita, warga negara Indonesia. Bukan hanya berharap petugas atau pemerintah bersikap dan beretos kerja yang baik, tetapi dukungan sikap dari warga juga sangat memegang andil untuk terciptanya sistem pelayanan yang baik.   


Kunci dari keberhasilan suatu kebijakan atau langkah yang ditetapkan oleh Pemerintah di suatu negara dalam mencegah penyebaran Covid-19 adalah kerjasama serta kepatuhan rakyat dalam melaksanakan himbauan dari pemerintahnya. Maka dari itu, sebagai sorang warga masyarakat yang baik, maka sudah selayaknya kita patuh dan berpartisipasi aktif dalam upaya serta langkah yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 

Semoga bermanfaat
ARL

You May Also Like

2 comments

  1. wah, belanja ke pasar disini masih agak padat mba. jadi kami pilih belanja online. sehat2 ya mba sita dan keluarga.

    ReplyDelete
  2. Hallo, Mbak Pungki
    Di Tsukuba untuk pasar (disini berupa toko atau semacam supermarket) juga tetap ramai, sehingga saat masih Status Keadaan Darurat kemarin diberlakukan pembatasan masuk toko.
    Pengen juga belanja online untuk kebutuhan pokok, hanya persyaratan dokumennya pakai huruf kanji, butuh usaha ekstra untuk baca dan terjemahkan..
    Mbak pungki juga sehat-sehat ya sekeluarga

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkomentar dengan santun 😊

Cara mengisi komentar:
Pilih NAME/URL, Ketik dengan URL Blog, Isi komentar 📝