UA-169280022-1 Kehidupan di Jepang, Waktunya Kunjungan Bidan ke Rumah - Lembar Arsita Rahadiyani, Personal Blog milik Arsita Rahadiyani Loekito berisi cerita dan pengalaman

Kehidupan di Jepang, Waktunya Kunjungan Bidan ke Rumah

by - July 27, 2020

Bidan memeriksa kondisi bayi kita di rumah? Bidan akan bertanya apa saja ya?
Itu adalah dua pertanyaanku kepada beberapa sahabat muslimah Tsukuba yang telah memiliki pengalaman melahirkan bayi lebih dulu di Jepang. Pertanyaan seputar Kunjungan Bayi oleh Bidan ke rumah. Untuk bayi yang dilahirkan di Jepang, ada program yang disediakan oleh balai kota bagi ibu dan bayi yang baru saja dilahirkan. 赤ちゃん訪問(baca: akachan houmon) yang artinya Baby Visiting by Midwife, adalah kunjungan oleh petugas kesehatan dari institusi kesehatan setempat (umumnya bidan) ke rumah yang dihuni oleh ibu yang baru saja melahirkan bayi di Jepang. Sahabat penasaran dengan program ini? Yuk simak pengalamanku saat Kunjungan Bidan ke Rumah untuk Bayi Baru Lahir di Jepang

Kehidupan di Jepang, Waktunya Kunjungan Bidan ke Rumah


Kehidupan di Jepang, Waktunya Kunjungan Bidan ke Rumah

Kondisi bayi dan ibu pascamelahirkan sangat diperhatikan oleh pihak pemerintah Jepang. Hal ini diwujudkan dengan adanya program Kunjungan Bayi oleh Bidan ke tempat tinggal ibu. Dalam bahasa Jepang, program ini disebut dengan 赤ちゃん訪問, (baca: akachan houmon). 赤ちゃん berarti bayi/infant. Sedangkan 訪問 bermakna kunjungan/kedatangan atau visiting.Program ini bertujuan untuk mendukung para ibu yang baru saja melahirkan dalam proses merawat dan membesarkan bayinya. 

Saat kita mendaftarkan kelahiran bayi di balai kota setempat di Jepang, petugas akan memberikan informasi perihal jadwal Kunjungan Bidan ini. Pengalaman suami saat mengurus dokumen kelahiran bayi di balaikota Tsukuba, petugas menginfokan bahwa akan ada jadwal kunjungan bidan yang dilakukan dalam periode satu sampai dengan dua bulan kedepan. Dan tak lupa ia juga menginfokan bahwa menjelang jadwal kunjungan, nanti akan ada pemberitahuan kembali oleh petugas dari pusat kesehatan setempat melalui sambungan telepon. Untuk itu, sebelum meninggalkan loket, suami harus meninggalkan nomor telepon yang aktif agar bisa dihubungi untuk keperluan konfirmasi. 


Pengalaman di Jepang,  Baby Visiting by Midwife Kunjungan Bidan ke Rumah 

Menurut buku panduan Kesehatan yang dikeluarkan oleh pihak kota Tsukuba, 保健師 (baca: hokenshi, arti: perawat kesehatan), 助産師 (baca: jyosanshi, arti: bidan) atau 看護師 (baca: kangoshi, arti: suster)akan mengunjungi rumah untuk memeriksa perkembangan/pertumbuhan bayi serta konsultasi tentang kondisi ibu pascamelahirkan. Program yang disediakan oleh pemerintah kota, yakni Kunjungan Bidan mengunjungi kediaman ibu dan bayi, ini tidak dipungut biaya alias gratis. Berdasarkan buku panduan kesehatan ditulis juga periode pelaksaan Kunjungan Bidan adalah sejak bayi baru saja lahir sampai dengan bayi berusia empat bulan. 

Saat bayi berusia jelang dua bulan, kemi menerima panggilan telepon dari Pusat Kesehatan distrik Sakura. Suara di sambungan telepon memberi tahu bahwa dalam tempo dua hari akan ada petugas dari mereka yang akan datang dalam rangka Kunjungan Bidan. Sebelum mengakhiri pembicaraan di telepon, ia memintaku mencatat beberapa hal yang harus disiapkan guna kelancaran proses Kunjungan Bidan nanti. 

Hal-hal yang harus disiapkan sebelum  petugas / bidan datang ke rumah antara lain: 
  • Handuk untuk mandi. Dikenal dengan バスタオル (baca: basu taoru) atau bath towel
  • Buku Kesehatan Ibu & Anak. 母子健康手帳 (baca: boshi kenkou techou)
  • Pertanyaan bila ada yang ingin disampaikan kepada petugas

赤ちゃん訪問 (akachan houmon), Baby Visiting by Midwife, Kunjungan Bidan ke Rumah 

Setelah menggali info dari teman lainnya, ternyata tidak semua ibu pascamelahirkan akan mendapatkan kunjungan di saat bayinya berusia hampir dua bulan seperti saya. Dari pengalaman beebrapa teman yang sudah pernah mendapatkan Kunjungan Bidan, ada yang dikunjungi saat usia bayinya berusia tiga bahkan ada juga yang berusia hampir empat bulan saat bidan mengunjunginya ke rumah. Kepada mereka sedikit banyak aku bertanya apa saja yang dilakukan dan apa saja yang ditanyakan oleh Bidan saat berkunjung ke rumah kita. Supaya bisa menyiapkan catatan jawaban, khawatir plegak pleguk alias grogi karena harus berbicara dalam bahasa Jepang.Selain itu dengan mencatat, hal-hal yang hendak ditanyakan atau diutarakan tidak ada yang terlewat karena lupa.Jadi ingat tulisan teman yang membahas tentang lupa yang tidak bermanfaat. Nah, buatku dengan membuat catatat seperti ini hal seperti itu bisa dihindari. Apalagi pengalaman Kunjungan Bidan hanya bisa dialami satu kali saja, sehingga dimanfatkan sebaik-baiknya.

Berikut ini adalah hal-hal yang dilakukan oleh bidan saat melakukan kunjungan ke rumah kami di bulan Oktober tahun 2019 lalu. 

1. Melakukan penimbangan untuk mengetahui berat badan bayi

Sahabat jangan heran ya, ibu Bidan yang ditugaskan di program Kunjungan Bayi datang berkunjung ke rumah sambil membawa tas jinjing berukuran agak besar. Ternyata di dalamnya, mereka membawa timbangan digital yang akan dipakai untuk menimbang bayi. Sebelum dipakai untuk menimbang bayi, ia akan meminta handuk, yang sudah diinfokan oleh petugas lain saat menelepon. Kemudian handuk tersebut diletakkan di atas wadah timbangan yang dipakai untuk meletakkan bayi. Sehingga badan bayi tidak bersentuhan langsung dengan wadah timbangan. Ini juga bertujuan supaya badan bayi tetap bersih dan nyaman. Karena saat penimbangan dilakukan, baju bayi harus dilepas dan hanya menggunakan popok sekali pakai yang baru saja diganti alias bersih.  

Kehidupan di Jepang, Kunjungan Bidan ke Rumah
Ilutrasi penimbangan bayi oleh bidan saat kunjungan. Sumber: http://megumi-jyosanin.com/

 

2. Menanyakan kondisi ibu pascamelahirkan serta menerima konsultasi tentang merawat dan menyusui bayi

Setelah menimbang bayi, bidan akan memeriksa kondisi tumbuh kembang bayi. 

Kehidupan di Jepang, Kunjungan Bidan ke Rumah
Ilustrasi ketika berkonsultasi dengan bidan saat berkunjung ke rumah. Sumber: https://www.ac-illust.com/

Bayi akan diperiksa respon mata, respon jemari dan juga kekuatan tangannya. Ia juga menanyakan apakah bayi kesulitan saat menyusui?. Apakah bayi bisa menyusu dengan baik? Bagaimana posisi menyusui bayi?
Selain itu ia akan bertanya perihal adakah kesulitan saat proses menyusui. Bidan juga memperhatikan bagaimana cara/posisi bayi saat menyusu. Dan akan memberikan saran bila diperlukan. 
Alhamdulillah, semenjak hasil konsultasi di pemeriksaan bayi saat usia dua bulan, berdua bersama bayi aku telah berupaya untuk memperbaiki posisi  dan pelekatan saat menyusui. Sehingga volume susu formula yang kuberikan kepada bayi sudah jauh berkurang, karena ASI sudah bisa keluar lebih banyak berkat bayi yang menyusu dengan posisi dan pelekatan yang benar dan lebih intens. Ya, sampai usia dua bulan bayiku masih mengkonsumsi susu formula sebagai tambahan. Hal ini disebabkan karena saat proses melahirkan aku mengalami pendarahan yang kemudian mengharuskanku melakukan transfusi darah sesaat pascamelahirkan. Akibatnya, keluarnya ASI menjadi sedikit terhambat. Selain itu jelang beberapa jam menuju proses persalinan, aku juga mengalami demam sampai 38 derajat Celsius. Sehingga setelah dilahirkan, bayi perempuanku harus dirawat di NICU guna proses pemeriksaan terkait ada tidaknya infeksi. 

Oleh karena hal itu, bidan mengajukan beberapa pertanyaan dari kertas yang ia bawa seputar kondisiku dua bulan pascamelahirkan, misalnya:
  • Bagaimana perasaan yang dirasakan ibu saat ini? 
  • Apakah masih terasa sakit?
  • Apakah obat yang diberikan dokter RS masih ada?*
  • Apakah bisa ikut tertidur saat bayi juga tertidur?
  • Apakah bayi bisa menyusu sampai kenyang?
  • Apakah ayah si bayi turut membantu pekerjaan rumah tangga?seperti apa yang dikerjakan?
  • Apakah ayah si bayi juga turut mengurus/merawat bayi?
* Bagi ibu pascamelahirkan di Jepang, umumnya diberikan zat besi untuk dikonsumsi di rumah. 

Dengan bahasa Jepang yang terbatas, aku mencoba menjawab pertanyaan dengan bidan baik. Beruntungnya bidan yang berkunjung ke rumah saat itu, bisa sedikit berkomunikasi dalam bahasa Inggris, sehingga kami bisa bercakap-cakap dengan dua bahasa. Tak jarang ditambah juga dengan bahasa tubuh saat ada kosa kata yang sulit diterjemahkan ke dalam salah satu bahasa. 
 
Karena komunikasi bisa berlangsung dua arah, maka sebagai pihak yang dikunjungi aku juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada bidan, antara lain:
  • Kira-kira ASI saya cukup tidak?
  • Bagaimana cara bermain bersama bayi di usia dua bulan ini? 
  • Stimulasi yang umum dilakukan oleh para ibu di Jepang kepada bayi usia dua bulan? 
  • Sebagai orang asing (dari negara dua musim) sebaiknya kami menyediakan berapa jenis pakaian bayi ya mengingat sebentar lagi akan musim gugur?
  • Kulit bayi saya timbul kemerahan, apakah ini normal?

Selain pertanyaan di atas, bidan juga mengajak berdiskusi tentang menu makanan harian serta sesekali bertanya tentang jenis makanan khas Indonesia. Aku yang awalnya tegang karena khawatir akan kesulitan berkomunikasi, ternyata malah sebaliknya. Aku menjadi sangat terhibur karena bisa bercakap-cakap dengan santai.

3. Menjelaskan tentang vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan bagi bayi. 

Di Jepang, vaksinasi untuk bayi adalah program yang disubsidi oleh Pemerintah dan wajib diikuti oleh seluruh warga, tak terkecuali warga asing sepertiku. 
Saat bayi berusia atau jelang satu bulan pemerintah kota setempat akan mengirimkan lembaran-lembaran kupon vaksin yang harus diberikan kepada bayi sampai ia berusia dua belas bulan. Saat kunjungan ke rumah, bidan akan sedikit menjelaskan tentang vaksin serta cara penggunaan kupon ini. Vaksin dasar yang disubsidi pemerintah misalnya, Hepatitis B, Hib, Stretococcus pneumoniae, DPT-IPV dan BCG. 

Kehidupan di Jepang, Kunjungan Bidan ke Rumah
Amplop  dari balai kota, berisi aneka kupon vaksin dan pemeriksaan kesehatan


Bagi bayi yang lahir dan tinggal di Jepang, pemberian vaksin dimulai pada saat bayi berusia dua bulan. Selain vaksin yang disubsidi oleh Pemerintah, ada juga vaksin tambahan yang tidak disubsidi oleh pemerintah. Artinya saat memilih untuk memberikan vaksin untuk bayi, kita harus membayar dengan biaya sendiri. Karena sifatnya pilihan, orangtua boleh saja tidak memilih untuk memberikan vaksin jenis ini. Contoh vaksin tambahan misalnya Rotavirus. 
Untuk melengkapi penjelasannya, bidan juga akan mengingatkan agar ibu si Bayi tidak lupa untuk menelepon klinik anak yang telah dipilih (dituju) sepekan sebelum bayi tepat berusia dua bulan untuk reservasi mendapatkan vaksin. 

Kehidupan di Jepang, Kunjungan Bidan ke Rumah
Kupon Vaksin bagi bayi.

Sudah menjadi prosedur baku di Jepang, bahwa saat akan mengunjungi klinik, umunya harus diawali dengan menelepon terlebih dulu. Agar pihak klinik bisa memberikan pelayanan yang maksimal bagi pengunjungnya. Saat menelepon tersebut, kita akan ditanya perihal keperluan kedatangan, dan petugas klinik akan menyampaikan hal-hal apa saja yang harus dibawa sebelum datang. Itulah pentingnya menelepon untuk konfirmasi sebelum datang, karena tidak jarang pemberian vaksin dan pemeriksaan tidak bisa dilakukan karena dokumen yang harus dibawa tidak lengkap. 

Kehidupan di Jepang, Kunjungan Bidan ke Rumah
Kupon Pemeriksaan Kesehatan


Selain kupon vaksin, ada juga lembaran kupon pemeriksaan kesehatan untuk bayi yang dikirim dari balai kota. Ini adalah progam subsidi dari pemerintah provinsi tempat ibu dan bayi tersebut tinggal. Pemeriksaan yang dibiayai oleh pemerintah ini dilakukan sebanyak dua kali di lembaga medis yang telah ditunjuk, yakni:
  • Pemeriksaan Kesehatan Bayi di periode usia 3~7 bulan
  • Pemeriksaan Kesehatan Bayi di periode usia bayi 9~12 bulan
Sekali lagi Bidan menenkankan supaya warga yang hendak melakukan pemeriksaan ini agar melakukan reservasi terlebih dahulu ke lembaga medis atau klinik yang ditunjuk serta memperhatikan perihal barang-barang yang harus dibawa saat pemeriksaan. Bila ada persyaratan yang kurang, maka subsidi menjadi tidak berlaku dan ibu harus membayar pemeriksaan bayinya. 

4. Memberikan informasi mengenai program kesehatan dan tumbuh kembang bagi bayi. 

Aneka kegiatan yang berhubungan dengan ibu dan bayi juga diinformasikan oleh bidan. Seperti kegiatan すこやか健康相談 (baca: sukoyaka kenkou soudan) yakni semacam Posyandu, hanya saja setelah penimbangan dan sedikit konsultasi masalah kesehatan dan tumbuh kembang tidak dibagikan bubur kacang hijau seperti halnya di Indonesia. Selain itu ada juga kegiatan edukasi bagi ibu-ibu yang akan menyambut masa MPASI bagi bayinya yang disebut dengan 赤ちゃんランド、離乳食教室 (baca: akachan rando, rinyuu shoku kyoushitsu) yang jika diterjemahkan menjadi taman bayi, kelas MPASI. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat untuk diikuti. Selain itu banyak informasi lain yang diberikan lewat berbagai flyer dan buku.  
Kehidupan di Jepang, Kunjungan Bidan ke Rumah. Aneka Bosur
Aneka flyer yang diberikan oleh bidan. Dokumentasi pribadi


Kesan  saat Baby Visiting by Midwife, Kunjungan Bidan ke Rumah 

Kunjungan Bidan ini sangat memberikan kesan bagiku pribadi. Karena bisa sedikit berkonsultasi perihal kendala yang sempat kualami selama periode hampir dua bulan pascamelahirkan. Selain itu, bisa menambah pengalaman dalam berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Ditambah lagi oleh-oleh berupa aneka flyer tentang hal-hal yang berhubungan dengan tumbuh kembang bayi. Selain membuat penasaran sehingga harus (terus membiasakan diri) belajar membaca huruf bahasa Jepang, tentu juga menambah penasaran perihal kegiatan yang berhubungan dengan pengasuhan anak atau parenting apa saja yang bisa diikuti selama masih berkesempatan tinggal di Tsukuba. 

Itu tadi cerita tentang pengalaman pribadiku saat menjalani Kunjungan Bidan ke rumah saat bayi berusia hampir dua bulan. Bila ada pengalaman yang berhubungan dengan pemeriksaan bayi atau balita dengan bidan baik di Posyandu maupun Klinik/Rumah Sakit bisa berbagi bersama di kolom komentar ya. 

Salam 
ARL

You May Also Like

1 comments

  1. wah aku jadi semakin cinta dengan budaya Jepang, semoga suatu saat nanti bisa kesana ya :D amin

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, dan berkomentar dengan santun 😊

Cara mengisi komentar:
Pilih NAME/URL, Ketik dengan URL Blog, Isi komentar 📝