Aktivitas belanja merupakan aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dengan ibu rumah tangga. Dari mulai kebutuhan seperti bahan pokok, persediaan obat-obatan, pakaian bahkan sampai skincare atau kosmetik. Saat Pandemi Corona melanda Jepang, pemerintah setempat memberlakukan pembatasan aktivitas, salah satunya memberikan panduan aktivitas belanja bagi warga. Mau tahu bagaimana aktivitas belanja di Jepang terutama saat Status Keadaan Darurat Corona masih diberlakukan? Simak pengalaman belanja di Jepang selama Pandemi Corona.
Pengalaman Belanja di Jepang Saat Pandemi Corona
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di bulan Juni. Untuk di Jepang, bulan keenam ini identik dengan mulai meningkatnya suhu udara serta kecenderungan turunnya hujan. Ini karena sebentar lagi Jepang akan memasuki periode musim panas. Hal yang aku syukuri adalah jelang bulan Juni kemarin pemerintah Kota Tsukuba, tempat aku tinggal selama empat tahun ini, telah mengeluarkan keputusan untuk mencabut status keadaan darurat karena Corona. Aktivitas untuk warga mulai lebih longgar, salah satunya adalah aktivitas belanja. Meskipun 緊急事態宣言, (baca: kinkyuu jitai sengen) Emergency State atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Status Keadaan Darurat, sudah resmi dicabut, namun arahan pemerintah dalam hal belanja tetap masih diberlakukan. Hal ini sebagai upaya pencegahan terhadap timbulnya kasus Corona baru.
Aktivitas belanja di Jepang
Belanja merupakan aktivitas vital bagi setiap orang, oleh karena itu salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Jepang adalah memberikan himbauan serta panduan kepada warganya, sehingga meski harus beraktivitas belanja upaya penyebaran dan penularan Pandemi Corona tetap bisa dilaksanakan.
Di Tsukuba dan juga di seluruh Jepang aktivitas belanja dilakukan di supermarket, karena pasar tradisional tidak lagi ditemukan. Hanya di tempat-tempat tertentu atau sedang dilangsungkannya festival, kita bisa menjumpai kios-kios yang menjual aneka jajanan semacam street food. Selebihnya untuk membeli kebutuhan seperti sembako sejak empat tahun menetap di negara yang terkenal dengan bunga sakuranya ini, warga membeli kebutuhan tersebut di supermarket atau dengan belanja online.
Warga Jepang menyebut supermarket atau toko yang menjual aneka kebutuhan dengan スーパー, (baca: supa), ditulis dengan katakana, salah satu aksara yang terdapat dalam bahasa Jepang. Penulisan dengan aksara katakana dikarenakan merupakan kata yang diserap dari bahasa asing.
Baca Juga: Mengenal Aksara dalam Bahasa Jepang
Salah satu toko yang kami kunjungi setiap bulan adalah Gyoumu Supa. 業務スーパー. Toko ini merupakan tempat belanja favorit bagi warga Indonesia karena banyak menyediakan produk halal. Produk halal yang disediakan misalnya daging ayam dan sapi halal (frozen alias beku) serta olahannya seperti nugget atau karaage, aneka bumbu, camilan atau snack, ada hampir di seluruh kota di Jepang. Selain itu toko ini juga banyak tersebar di seluruh Jepang. Sehingga salah satu obrolan saat bertemu dengan komunitas Indonesia adalah tentang Gyoumu Supa.
Topik tentang salah satu produk baru yang dijual di Gyoumu Supa akan ramai diperbincangkan oleh ibu-ibu dan sister-siter baik saat bertemu langsung maupun di group media sosial. Hehehe..
Pengalaman Belanja di Jepang Saat Pandemi Corona
Saat pekan pertama bulan Mei lalu karena kebutuhan dan keperluan yang mendesak, kami sekeluarga akhirnya harus keluar rumah untuk pergi belanja di salah satu supermarket langganan kami, Gyoumu Supa. Awal bulan Mei merupakan masa-masa penting yang dicanangkan oleh Pemerintah Jepang untuk upaya pencegahan penyebaran virus Corona, sehingga social distancing atau pembatasan aktivitas sangat digalakkan. Tak terkecuali Gyoumu Supa, mereka menerapkan himbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah
Pada bagian kaca etalase tertera himbauan pemerintah Jepang tentang Arahan Aktivitas Belanja selama COVID=19.
![]() |
| Panduan Cara Belanja di Jepang selama COVID-19 di kaca toko Gyoumu Supa Tsukuba. Dukumentasi Pribadi. |
Baca Juga: Gyoumu Supa, Tempat Belanja Murah di Jepang
Isi himbauan Pemerintah Kota Tsukuba kepada warga tentang Cara Belanja di Jepang selama Pandemi Corona:
- Meminimalkan jumlah orang saat berbelanja. Agar berbelanja seorang diri, tidak dalam kelompok/grup.
- Pakailah masker selama berbelanja, dan diharapkan agar hanya menyentuh barang-barang yang hendak dibeli.
- Bawahlah daftar belanja serta persingkatlah waktu dalam berbelanja.
- Selalu menjaga jarak aman dengan orang/pengunjung toko lainnya.
- Selalu mencuci tangan saat sebelum dan sesudah aktiitas berbelanja.
- Saling menghargai antara pengunjung.
Hari itu bukanlah akhir pekan, sengaja kami pilih supaya kondisi pengunjung lebih sedikit, sehingga waktu berinteraksi dengan orang lain lebih sedikit. Agar sejalan dengan isi himbauan dari pihak kota Tsukuba, toko Gyoumu Supa sendiri juga mengeluarkan pengumuman tentang pembatasan jumlah pengunjung yang diperbolehkan masuk ke dalam area toko.
Informasi bagi orang Jepang adalah sesuatu yang sangat penting. Dan hal yang selalu mereka tekankan adalah menyiarkan dan membaca informasi. Sehingga tidak heran, meskipun sudah ada informasi himbauan dari pihak kota, Gyoumu Supa sendiri memajang informasi berukuran cukup besar ini tepat di depan pintu masuk tokonya.
Sehingga sebelum area pintu masuk, siang itu terjadi antrian beberapa pengunjung yang hendak masuk ke dalam toko untuk berbelanja. Mengantri dengan tetap social distancing, dengan tetap menjaga jarak minimal 1 meter. Tepat di samping papan informasi ada seorang karyawan toko yang memandu dan menjelaskan bahwa untuk mencegah penyebaran COVID-19, siang ini toko sudah memberlakukan pembatasan jumlah pengunjung yang boleh masuk berbelanja. Sehingga ia memohon maaf dan pemakluman dan pengunjung agar bersedia mengantri terlebih dahulu, agar jumlah pengunjung yang berada di dalam toko tetap terkontrol. Selain memberikan penjelasan, karyawan laki-laki yang sudah berusia paruh baya tersebut, juga meminta kepada setiap pengunjung yang mengantri untuk membersihkan tangan setiap kali mereka akan masuk dan keluar dari toko selepas berbelanja.
Saat tiba giliranku untuk masuk, bapak karyawan toko mengingatkan kembali supaya tak lupa menggunakan cairan desinfektan terlebih dahulu kemudian mengulurkan keranjang belanja yang telah ia bersihkan dengan kain lap.
Kodisi toko sangat lengang, hanya sekitar total 15-20 orang yang ada di dalam, termasuk karyawan Gyoumu Supa. Semua pengunjung menggunakan masker di wajahnya. Tidak ada yang pengunjung yang membawa serta anak siang itu, warga benar-benar berusaha mengikuti himbauan yang dikeluarkan oleh pihak kota dan pemerintah pusat. Waktu belanja juga kupersingkat, hanya bahan-bahan yang sudah kutulis di daftar belanja yang kumasukkan ke dalam keranjang, ditambah satu pack es krim titipan anak sulung dan mie instant produk Indonesia, untuk dinikmati disaat buka puasa. Beberapa item yang kubeli siang itu adalah santan, daging ayam halal, daging sapi halal, tepung terigu, tepung tapioka, pasta bawang putih, dan bumbu.
Pengalaman berbeda yang juga kutemukan waktu belanja di Tsukuba, Jepang selama Pandemi Corona adalah pemandangan di area kasir.
Baca Juga: Tsukuba Kota Ilmu Pengetahuan di Jepang
Tidak hanya di Gyoumu Supa, yang terkenal sebagai tempat belanja di Jepang bagi ibu-ibu muslim untuk membeli bermacam produk halal, tetapi di juga di supermarket serta convinience store lain juga, yaitu pemandangan tirai plastik yang menggantung di area kasir.
![]() |
| Salah satu pemandangan waktu berbelanja di Jepang saat Pandemi Corona. Tirai Plastik yang menggantung di area kasir. Dokumentasi Pribadi. |
Tirai plastik ini menggantung dari bagian penyangga dekat langit-langit toko, menjuntai bawah hingga setinggi dada orang dewasa. Ini adalah salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 melalui dropplet. Meskipun sudah ada tirai plastik tersebut, karyawan toko dan pengunjung tetap dihimbau untuk menggunakan masker. Upaya berlapis dilakukan guna pencegahan penyebaran virus.
Setelah menyelesaikan kewajiban membayar di kasir, jangan lupa untuk memasukkan sendiri barang-barang yang sudah kita beli ke dalam kantung belanja yang sudah kita bawa dari rumah ya. Bila tidak membawa dari rumah, kita bisa membeli kantong plastik belanja di kasir dengan membayar uang sebesar 3 sampai dengan 5 yen. Jadi dengan mempersiapkan sendiri kantong plastik belanja, kita bisa sekalian berhemat. Atau cara lainnya yang juga tidak perlu membayar adalah dengan menggunakan kardus bekas sebagai tempat untuk membawa pulang berang belanjaan kita. Yang terpenting adalah kita harus menginformasikan terlebih dahulu, salah satu dari ketiga jenis cara membawa barang belanja kita.
Panduan Belanja di Jepang Tetap Diberlakukan Meski Status Darurat Corona Telah Dicabut
Hal-hal yang tertera dalam aktivas belanja di Jepang ini tetap diterapkan dan terus dihimbau oleh pemerintah untuk dilakukan, sebagai upaya pencegahan terhadap timbulnya kasus COVID-19 baru pasca dicabutnya Status Keadaan Darurat Skala Nasional di Jepang.
Sebagai warga yang tinggal di suatu wilayah, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengikuti himbauan dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah.Begitupula dengan kami warga asing yang tinggal di Tsukuba, juga wajib melaksanakan aktivitas belanja di Jepang sesuai dengan himbauan dan arahan pemerintah setempat.
Semoga bermanfaat.
Salam hangat
ARL



















